Saya adalah Mahasiswa IAIN Serang yang berasal dari Lebak Banten

Minggu, 21 Februari 2016

Mahasiswanya Usir Tantowi Yahya, Rektor IAIN SMH Banten Bangga
SERANG, (KB).-
Rektor IAIN SMH Banten Prof Dr Fauzul Iman mengaku bangga terhadap komitment tinggi mahasiswanya untuk menolak politisi dan segala praktik politik praktis yang diselenggarakan di lingkungan lembaga pendidikan IAIN SMH Banten.
“Saya bangga terhadap mahasiswa yang punya komitment tinggi terhadap penolakan politisi,” ucap Fauzul Sabtu (13/2/2016).
Kendati demikian kata dia, sebagai tuan rumah dirinya akan lebih bangga saat melihat mahasiswanya memiliki teladan untuk memuliakan tamu
“Tapi lebih bangga lagi jika mahasiswa memiliki teladan untuk memuliakan tamu,” lanjutnya.
Fauzul menjelaskan, penolakan tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena mahasiswa belum tahu persoalan secara mendalam, tentang maksud dan tujuan Tantowi Yahya ke kampus mereka.
“Saya hanya tahu beliau (Tantowi Yahya) sebagai Anggota DPR RI, yang akan berbicara terkait radikalisme, ternyata mahasiswa punya pandangan lain, saya tidak tahu itu, “ ungkapnya.
Sebelumnya, wakil ketua komisi I DPR RI Tantowi Yahya hadir dalam seminar keagamaan tentang penangkal gerakan radikalisme oleh Gerakan pemuda anti radikalisme (Gepara) Sabtu/13/2/2016. Namun, sebelum sempat menjelaskan maksud dan tujuannya Tantowi justru diminta meninggalkan ruangan oleh sejumlah mahasiswa IAIN.
Pantauan dilokasi, Tantowi Yahya datang sekitar pukul 10.00 WIB di Aula Utama Kampus IAIN SMH Banten, saat acara memasuki menit ke sepuluh, sebelum Tantowi memiliki kesempatan berbicara lebih jauh tentang materi yang akan disampaikan, puluhan mahasiswa IAIN berorasi menggunakan pengeras suara diatas balkon lantai dua yang mengganggu jalannya seminar, mereka meminta Tantowi Yahya meninggalkan kampus mereka.
“Tantowi Yahya itu bukan hanya sebagai anggota DPR RI, Tapi juga bakal calon Gubernur Banten. Jaga netralitas kampus, segera tinggalkan tempat ini,” ujar seorang Mahasiswa saat orasi di hadapan Tantowi dan peserta dari sejumlah universitas.
Merasa terganggu dengan orasi mahasiswa, Tantowi akhirnya mendatangi demonstran untuk melakukan dialog, sempat menunggu beberapa saat dihadapan mahasiswa yang berorasi, Tantowi justru tidak diberikan kesempatan untuk berbicara, mahasiswa secara bergantian berorasi meminta dirinya untuk menjaga netralitas kampus dan segera meninggalkan kampus mereka.
“Kami hanya meminta bapak segera meninggalkan tempat ini,” teriak seorang mahasiswa
Sempat berusaha meminta pengeras suara, Tantowi sama sekali tidak diberi kesempatan. Dengan raut wajah penuh kekecewaan akhirnya dia meninggalkan lokasi dengan melambaikan tangannya kearah mahasiswa.
“Biasa ketika saya mahasiswa juga kayak gini, jadi bukan hal yang mengejutkan” ujar Tantowi kepada wartawan
Kendati demikian, dia menyayangkan tindakan mahasiswa yang sama sekalai tidak memberikan kesempatan dialog dengan dirinya sehingga mereka (Mahasiswa)tidak mengetahui apa yang dilakukannya.
Mahasiswa itu adalah agen demokrasi, cikal bakal dari calon pemimpin bangsa, seorang intelektual, salah satu ciri khas demokrasi itu dialog. Jadi dalam demokrasi itu tidak bisa memaksakan kehendak. dari dialog itu kita tahu apa sih yang sedang dilakukan seseorang. tapi kalo ruang itu sudah ditutup ya mau bagaimana,” ucapnya.
Tantowi mengaku kecewa karena tidak dapat memaparkan secara menyeluruh tentang materi radikalisme, “Kecewa karena tidak bisa memberikan materi menyeluruh kepada peserta seminar yang bukan hanya mahasiswa itu. akhirnya mereka tidak mendapatkan intisari dari pembahasan yang sangat relevan mengenai radikalisme,” pungkasnya.
Sementara ketua Dewan Mahasiswa (Dema)IAIN SMH Banten, Rikbal. menuturkan, terlalu sempit jika kedatangan Tantowi Yahya hanya dimaknai sebagai narasumber, atau sebagai Anggota DPR RI. Menurutnya status Tantowi yang telah menyatakan diri akan maju sebagai calon Gubernur Banten menjadi persoalan utama bagi netralitas sebuah lembaga pendidikan. Terlebih kata Rikbal, Organisasi taktis yang menyelenggarakan kegiatan tersebut tidak jelas asal usulnya.
“Penyelenggaranya organisasi apa, saya belum pernah mendengar ada organisasi Gepara di IAIN. Tiba- tiba menggelar acara dengan menghadirkan politisi sebagai narasumber menjelang pilgub di sebuah lembaga pendidikan yang seharusnya netral dari praktik politik praktis,” pungkasnya. (Irwan/Job)***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar